Senin, 12 September 2011

onaniMasturbasi atau Onani itu sering dikonotasikan dengan sesuatu yg bersifat negatif.Orang menjadikannya alat yg ideal utk mndpatkan kesenangan diri.

Hal ini nggak dapat dilepaskan dari fungsi masturbasi itu sendiri.

Pada dasarnya, masturbasi adalah aktivitas merangsang diri sendiri.

Bila hal ini dilakukan perempuan, maka ia akan menstimulasi area genitalnya, seperti vagina dan klitoris.
Perempuan yang sudah terbiasa mengeksplorasi area vulva-nya, bahkan mampu menemukan area G-spot. Kerap kali perempuan berhasil mencapai orgasme melalui rangsangan ini.

Tidak banyak orang yang membicarakan teknik ini, meskipun kenyataannya tak sedikit orang yang bermasturbasi. Hasil studi bahkan menunjukkan bahwa perempuan yang rutin bermasturbasi berpeluang mengalami kehidupan seksual yang lebih memuaskan.
Lebih dari itu, mereka juga akan memiliki kesehatan yang lebih baik, termasuk hubungan perkawinan yang lebih bahagia.

Ada point penting yang juga perlu kamu ketahui mengenai masturbasi.
Dengan masturbasi, kamu akan lebih memahami kebutuhan seksual kamu sendiri.
Ketika kamu nggak mampu berkomunikasi dengan pasangan mengenai hubungan seks yang memuaskan kedua belah pihak, masturbasi menjadi salah satu cara bagi kamu untuk mengeksplorasi seksualitas kamu.
Ketika kamu mampu menikmati masturbasi, kepercayaan diri kamu juga akan meningkat.

Manfaat kesehatan

Seperti telah disebutkan di atas, ada sejumlah manfaat kesehatan yang bisa diperoleh dari masturbasi, di antaranya:

"Mencegah infeksi saluran kemih dan infeksi serviks"

Dalam berbagai studi pernah diungkapkan bahwa perempuan akan terlindung dari infeksi serviks dan infeksi saluran kemih (ISK) jika mereka masturbasi secara rutin.
Ketika seorang perempuan mengalami orgasme, terjadi pembukaan pada leher rahimnya, yang kemudian akan menimbulkan proses peningkatan jumlah bakteri baik di dalam leher rahim. Masturbasi juga menghasilkan pelumas alami vagina, yang akan membantu membilas organisme yang menyebabkan infeksi.

Memperbaiki fungsi kardiovaskuler dan menurunkan risiko diabetes tipe 2

Perempuan yang mendapatkan orgasme secara teratur, melalui hubungan seks dengan pasangan maupun masturbasi, juga menunjukkan peningkatan kesehatan kardiovaskuler (yang berkaitan dengan jantung) dan mengembangkan daya tahan yang lebih besar terhadap diabetes tipe 2.

Obat alami untuk insomnia

Masturbasi akan membuat kamu mampu melupakan stres yang dihasilkan oleh kesibukan kerja. Seusai sesi masturbasi, kamu juga bisa tidur lebih lelap. Apa pun jenis aktivitas seksual yang kamu lakukan, akan memperbaiki kadar dopamin, hormon yang memberikan rasa senang.

Ketika kamu baru mencapai klimaks, hormon yang memberikan efek menenangkan (endorfin dan oksitosin) akan dilepaskan.
Perasaan senang dan nyaman ditambah dengan rasa hangat setelah orgasme yang intens inilah yang akan membantu kamu tidur lebih nyenyak.

Dasar panggul yang lebih kuat

Tidak perlu diragukan lagi bahwa masturbasi akan membantu memperbaiki kekuatan dasar panggul. Dasar panggul yang sehat akan meningkatkan fungsi-fungsi seksual secara keseluruhan, dan membantu kamu menikmati sesi bercinta dengan lebih baik.

NAMUN ...

Para ahli juga mengatakan , sebagian besar lelaki pernah melakukan masturbasi, entah untuk mengurangi stres, membantu tidur nyenyak, dan lain sebagainya.


Meskipun begitu, ada hal-hal medis yang mungkin belum pernah diketahui tentang masturbasi. Inilah beberapa hal penting tentang masturbasi yang perlu diketahui para pria :


onani1. Tidak ada istilah “masturbasi abnormal”


Pria kerap kali bertanya apakah ada sesuatu yang abnormal dengan cara mereka masturbasi.




Para ahli sendiri enggan mendefinisikannya dalam kata “normal” atau “abnormal”, tetapi mereka menyatakan bahwa pria melakukannya dengan frekuensi dan teknik yang sangat bervariasi.


“Sebagai manusia, kita terlalu beragam untuk menerapkan sebuah norma tertentu mengenai masturbasi yang normal atau tidak,” kata Betty Dodson, PhD, Seksolog dari New York City sekaligus penulis buku Sex for One.


“Setiap orang melakukan masturbasi dengan caranya sendiri. Apakah ia menggunakan tangannya, menggosokkan pada sesuatu, menggunakan mainan seks atau objek rumah tangga, mengenakan pakaian khusus, berfantasi, melihat sebuah buku atau majalah, mencoba posisi yang berbeda, atau melihat daricermin,” kata Martha Cornog, penulis The Big Book of Masturbation .



2. Masturbasi tak sepenuhnya aman.



Tidak seperti seks dengan pasangan, masturbasi tidak menularkan penyakit seksual.


Kamu juga nggak akan mengalami ketegangan otot, kantung mata akibat kelelahan, dan rasa canggung yang sering dihadapi ketika berhubungan intim dengan pasangan.

Tapi masturbasi pun tak sepenuhnya dijamin aman. “Masturbasi adalah hanyalah soal seks paling aman yang pernah ada.


Tapi hukum fisika dan biologi tidak akan berhenti mengatakan bahwa masturbasi aman hanya karena masturbasi biasa dilakukan,” kata Cornog.


Rata-rata pria mengetahui apabila keseringan melakukan masturbasi atau terlalu kuat saat melakukannya dapat mengiritasi kulit penis.


Di sisi lain, pria kurang mengetahui bahwa kebiasaan pria melakukan onani dengan keadaan telungkup – misalnya, dengan menekan pada bantal atau bahkan karpet lantai bisa melukai uretra, sehingga pengeluaran urin dari penis tidak di seperti biasanya, tetapi menyemprot dengan keras sehingga sulit dikendalikan.


Barbara Bartlik, MD, psikiater dan terapis seks di New York City, mengatakan dia melihat pria yang menderita trauma uretra yang parah karena masturbasi dengan cara telungkup, sehingga ia tidak lagi dapat menggunakan toilet berdiri tapi harus buang air kecil sambil duduk.


Dalam kasus tertentu yang sangat langka, masturbasi atau berhubungan seks dengan pasangan juga dapat menyebabkan fraktur penis.


Kondisi yang menyakitkan ini terjadi – di mana ada sobekan di bagian albuginea tunika (jaringan putih yang mengelilingi lapisan spons penis) ketika penis yang sedang ereksi mengenai benda keras atau dipaksa menekuk ke bawah.


Dalam keadaan darurat, seringkali berakhir kondisi ini harus dioperasi.


3. Seks sendiri mengubah kehidupan seks Kamu atau sebaliknya.



Untuk berbagai alasan, seks kala sendiri dapat memberi manfaat. Masturbasi dapat membantu mengenali respon seksual Kamu sendiri – apa yang dirasakan baik bagi Kamu dan apa yang tidak – sehingga Kamu akan lebih mampu menjelaskan kepada pasangan bagaimana sebaiknya disentuh.


Ini juga membantu Kamu belajar untuk mengenali saat “yang tak bisa dihindari” tepat sebelum orgasme dan membantu mengajari pasangan bagaimana menghindari ejakulasi dini.


Mungkin yang paling signifikan, masturbasi adalah mekanisme atau solusi terbaik bagi pria yang tidak dapat melakukan hubungan seks sementara di saat pasangannya sakit, atau sedang menstruasi, atau memeliki dorongan seks yang tak sesuai dengan dirinya sendiri.


Bagi sebagian pria, ‘seks solo’ dapat menjadi sebuah obsesi sehingga mereka mulai kehilangan gairah bercinta dengan pasangan mereka.


Perasaan sakit hati dan keterasingan pasangan akibat obsesi ‘seks solo’ akan membuat Kamu sulit mempertahankan hubungan.


Para ahli menekankan, masturbasi sah-sah sajaLink bahkan untuk para pria yang sudah berkomitmen.


“Kita tidak dapat berasumsi bahwa hanya karena seorang pria masturbasi, maka itu menjadi masalah dengan hubungan primernya,” kata Bartlik.


4. Beberapa teknik masturbasi memicu disfungsi seksual.


Para ahli memperingatkan, pria yang sering merangsang dirinya dengan cara yang tidak mensimulasikan seks dengan pasangan – misalnya, membelai sangat cepat atau dengan tekanan besar atau gesekan – bisa mengidap gangguan ejakulasi.


Dengan disfungsi seks tersebut, seseorang akan kesulitan atau bahkan tidak mungkin mencapai klimaks selama berhubungan seks dengan pasangan.


“Siapa pun yang mengalami disfungsi seksual harus bertanya kepada dirinya sendiri apakah ia melakukan masturbasi dengan cara-cara yang menimbulkan sensasi berbeda dari yang diperoleh dari tangan, mulut atau vagina pasangannya.


Lalu ia harus memperhitungkan apa yang dapat merangsang pasangan Kamu dan mengubah cara masturbasi Kamu untuk membuatnya seperti yang diinginkan pasangan,” kata Michael A. Perelman, PhD, profesor psikiatri dan urologi dari Weill Cornell Medical College di New York City.


5. Masturbasi memengaruhi risiko kanker prostat


Sebuah studi yang dilakukan di Australia tahun 2003 dan dipublikasikan BJU International menyatakan, ejakulasi terkait dengan penurunan risiko kanker prostat di kemudian hari.


Namun dalam studi tahun 2004 diterbitkan dalam The Journal of American Medical Association, seorang peneliti melaporkan bahwa “frekuensi ejakulasi tidak berkaitan dengan peningkatan risiko kanker prostat.” Dalam kedua studi ini, frekuensi ejakulasi termasuk berhubungan seksual dengan pasangan dan masturbasi.


Sementara dalam sebuah penelitian yang diterbitkan Januari lalu dalam BJU International menyebutkan bahwa pria muda yang sering masturbasi berisiko lebih tinggi mengidap kanker prostat.


Tetapi apabila pria lebih tua sering masturbasi akan menurunkan resiko kanker prostat.


Sedangkan berhubungan seksual dengan pasangan tidak menjadi faktor resiko terkena kanker prostat.

Para peneliti berasumsi bahwa masturbasi bukan satu-satunya yang dapat memicu risiko kanker prostat pada pria yang sering masturbasi di usia 20-an dan 30-an.


Pria sering melakukan masturbasi karena memiliki kadar hormon seks yang tinggi.


Pria muda yang secara genetis cenderung memiliki hormon yang sensitif pada kanker prostat tentu berisiko tinggi bila hormon seks mereka berlebih.


Sementara itu, pria berusia di atas usia 50 tahun dan sering melakukan masturbasi, ternyata membantu mengeringkan cairan prostat yang mungkin mengandung zat-zat pemicu kanker.


Semoga Bermanfaat ...,,

[sumber:kompas.com] ditulis kembali oleh Mona Puspitasari untuk KomunitasTanteIndonesia.Com


0 komentar On Apakah Onani/Masturbasi itu Berbahaya ? | Inilah Alasan Kamu Perlu Masturbasi [+] Poskan Komentar